Sugesti sholat

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

Advertisements

Muhammad saw 3 cinta anak2

Rasulullah SAW telah memberikan teladan tentang kasih sayang kepada anak-anak. Bahkan, Nabi akhir zaman itu dijuluki sebagai bapak para anak yatim. Banyak kisah yang menggambarkan besarnya kecintaan beliau kepada anak-anak. Suatu hari, Rasulullah harus memendekkan bacaan shalatnya ketika mendengar anak menangis. Nabi SAW juga pernah mengangkat anak yang jatuh di dekatnya ketika sedang khotbah.

Rasulullah pun selalu menghibur dan menggembirakan hati anak-anak. Bila datang seseorang membawa bingkisan berupa buah-buahan, maka yang pertama diberinya adalah anak-anak kecil yang kebetulan ada di majelis itu. Jabir bin Samurah, sahabat Nabi Muhammad SAW, mengatakan bahwa Rasulullah suka mengusap kepala anak-anak. Suatu ketika, dirinya pernah shalat bersama Rasulullah pada shalat Dhuhur.

Seusai shalat, Rasulullah keluar ke tempat keluarganya, dia pun keluar bersama Rasulullah. Rasulullah tampak menciumi anak-anaknya dan mengusap kedua pipi mereka satu per satu. 

Menuntut ilmu

INI DIA! KEUTAMAAN ILMU DAN MENUNTUT ILMU

Ada banyak sekali pembahasan tentangkeutamaan ilmu yang bisa kita temukan di dalam Al-Qur’an, diantaranya firman Allah, “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Q.S. al-Mujadilah: 11)

Ibnu ‘Abbas berkata, “Derajat ulama lebih tinggi tujuh ratus derajat diatas orang beriman, dimana jarak antara satu derajat ke derajat lainnya adalah tujuh ratus tahun.”

Allah berfirman, “Katakanlah, ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Q.S. az-Zumar: 9)

Dalam ayat lain disebutkan,“Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Q.S. Fathir: 28)

Allah juga berfirman, “Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (Q.S. al-Ankabut: 43)

Dalam hadits disebutkan, “Hamba yang paling mulia adalah Mukmin yang berilmu, yang jika ia dibutuhkan ia akan bermanfaat bagi orang lain. Dan jika tidak dibutuhkan ia selalu merasa cukup dengan apa yang diterimanya.”

Beliau juga bersabda, “Manusia yang paling dekat derajatnya dengan para nabi adalah orang yang berilmu dan orang yang berjihad. Adapun orang yang berilmu; 

karena ia selalu menuntun manusia kepada ajaran para rasul. Sementara orang yang berjihad; karena mereka berjihad dengan pedang mereka sejalan dengan jihad yang diajarkan para rasul.”

Rasulullah bersabda, “Orang berilmu adalah kepercayaan (wakil) Allah di muka bumi.”

Rasulullah pun bersabda, “Golongan yang memperoleh syafaat pada hari kiamat adalah para nabi, orang-orang berilmu, lalu para syuhada.”

Fath al-Moshuli bertanya, “Bukankah orang yang sakit sudah tidak bisa makan, minum dan makan obat akan menemui ajalnya?” Lalu dijawab, “Ya.” Lalu beliau berkata, “Demikian pula dengan hati, jika sudah tidak bisa menerima kata-kata hikmah maupun ilmu selama tiga hari, maka ia akan mati.”

Kalau kita cermati, apa yang dikatakan oleh Fath al-Moshuli memang benar, karena yang menjadi menu makanan hati itu adalah ilmu dan siraman kata-kata hikmah. Tapi, terkadang hati kita udah nggak bisa lagi menerimanya, lantaran disibukkan sama urusan-urusan duniawi yang menghilangkan sensitifitasnya. Lalu ketika kematian mendekati seseorang pada saat ia masih disibukkan oleh urusan duniawi, maka hatinya akan merasakan sakit yang tak terkira perihnya dan terus-menerus tanpa akhir. Nah, inilah makna sabda Nabi Saw, “ Manusia itu tertidur (lalai), lalu saat mati barulah ia terbangun (sadar).” (HR. Abu Nu’aim)

Sedangkan keutamaan menuntut ilmu ditegaskan oleh sabda Nabi Saw, “Sesungguhnya para malaikat akan membentangkan sayapnya (merendahkan sayapnya untuk memberi perlindungan) bagi penuntut ilmu karena ridha dengan apa yang dilakukannya.” (HR. Imam Ahmad)

Rasulullah Saw juga bersabda, “Menuntut ilmu diwajibkan bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah)

Saya teringat akan Mahfudzot (pepatah bahasa arab) yang pernah diajarkan di pesantren dulu, bahwa, “Khoiru jalisin fizzamaani kitaabun”, artinya “Sebaik-baik teman di saat duduk adalah kitab (buku)”. Jadi, saya dan teman-teman selalu dianjurkan oleh ustadz-ustadz kalau kemana-mana, usahakan bawalah buku, meskipun tidak sempat membacanya, paling tidak buku itu bisa menjadi sebaik-baik teman yang mengisi waktu kosong kalian. Agar tidak ada waktu yang terbuang sia-sia. Begitulah kira-kira pesan ustadz kepada kami.

Mempelajari ilmu karena Allah adalah suatu kebaikan, dimana kebaikan itu akan kembali bagi pelakunya, mencari ilmu adalah ibadah juga, jika diniatkan karena Allah. Mengajarkan ilmu kepada orang yang tidak tahu adalah sedekah yang pahalanya akan mengalir terus bagi yang mengajarkannya, selama ilmu itu diamalkan.

Ilmu bisa menjadi penghibur di saat Anda sendiri, menjadi teman Anda di kala sepi, menjadi penyabar di kala Anda senang maupun susah, menjadi teman dan pembantu dalam semua situasi, menjadi obor penerang menuju surga. Dengan ilmu Allah mengangkat derajat seseorang dan menempatkan ia di tempat yang terhormat. Ilmu adalah petunjuk jalan baginya menuju kebaikan, hingga jejaknya diikuti dan perilakunya diteladani. Para malaikat melindunginya dengan sayap-sayap yang membentang. Setiap makhluk baik di bumi dan di langit akan berdoa memohonkan ampun baginya.

Sekian dulu yaa, mudah-mudahan catatan sederhana ini menambah khazanah kita. Dan juga mudah-mudahan menjadikan kita lebih semangat dalam menuntut ilmu agar kehidupan kita menjadi lebih terarah, serta Allah mengangkat derajat kita. Aamiiin.

Copas> sadadarifanhari

Muhammad saw 3 sang dermawan

MUHAMMAD SAW, SEORANG YANG DERMAWAN.

Beliau adalah makhluk Allah yang paling mulia dan manusia yang paling dermawan. Telapaknya bagaikan mendung yang mengundang banyak kebaikan dan tangannya bak hujan yang deras menurunkan kemurahannya. Bahkan dalam hal kemurahan, beliau lebih cepat melakukannya daripada angin yang bertiup. Beliau nggak pernah kenal kata “tidak”, kecuali hanya dalam tasyahhud shalatnya.

 

“Dia sama sekali tidak pernah berkata “tidak” kecuali dalam tasyahhudnya. Sekiranya tidak ada tasyahhud, pastilah kata “tidak” nya akan menjadi kata “ya” nya.”

 

Beliau memberikan kemurahannya bagaikan orang yang tidak pernah takut kemiskinan. Nah, gimana dengan kita? Padahal, Allah kan sudah berjanji, siapa yang memberi satu kebaikan, maka akan dibalas minimal sepuluh kebaikan, bahkan bisa lebih sampai 700 kali lipat atau bahkan tak terhingga.

 

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (balasan) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah, Ayat 261)

 

Ayat diatas, secara jelas Allah menyebut perhitungan matematis saat seseorang mengeluarkan hartanya untuk sedekah. Jika menurut perhitungan matematis itu berarti sedekah kita akan dibalas hingga 700 kali lipat! ibarat investasi, sedekah adalah investasi terbaik sepanjang masa.

 Rasulullah Muhammad shollallohu alaiihi wasallam, beliau diutus dengan membawa akhlak-akhlak yang mulia. Beliau adalah penghulu orang-orang yang dermawan secara mutlak. beliau memberi ternak kambing yang memenuhi lembah diantara kedua buah bukit dan memberi setiap pemimpin kabilah Arab sebanyak seratus ekor unta. Suatu ketika, pernah ada orang Arab badui meminta baju yang dikenakannya, beliau segera menanggalkan bajunya dan memberikannya kepada si peminta. SubhanAllah… Beliau tidak pernah menolak orang yang meminta suatu keperluan. Semua orang telah merasakan kebaikannya. Makanannya diberikan dan pemberiannya terus mengucur, dadanya sangat lapang, akhlaknya mudah, dan wajahnya senantiasa tersenyum.

 

Beliau tetap berinfaq walaupun tidak punya dan tetap memberi meskipun fakir. Beliau menghimpun semua ghanimah, kemudian membagi-bagikannya saat itu juga tanpa mengambil barang sesuatu pun darinya. Hidangannya selalu terbuka bagi setiap orang yang datang dan rumahnya menjadi kiblat bagi setiap delegasi. Beliau menerima tam membelanjakan harta, dan memberi makan kepada orang yang lapar dari makanannya, lebih mengutamakan orang yang perlu dengan uluran tangannya, memberi kerabat yang dekat dengan apa yang dimilikinya, menyantuni orang yang dihimpit oleh keperluan dengan apa yang dimilikinya, dan mendahulukan orang yang mengembara daripada dirinya sendiri.

 

Demikian itu karena beliau shollallohu ‘alaihi wasallam memberi seperti orang yang tidak menginginkan imbalah selain dari Allah semata dan beliau sangat pemurah seperti pemurahnya orang yang menyepelekan diri dan hartanya. Semua yang dimilikinya disediakan untuk jalan Allah Tuhannya.

 

Yuk, kita sama-sama belajar dan berusaha sebisa mungkin untuk meneladani kedermawanan Rasulullah Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam.

 

Ingat hadits ini yaa..

“Setiap orang (pada hari kiamat) akan berada dalam naungan sedekahnya sampai diputuskan semua perkara diantara manusia.”  (Hadits diketengahkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam kitab shahih masing-masing)

Hadits lain oleh Imam Muslim, melalui Abu Hurairah r.a. disebutkan bahwa Nabi saw pernah bersabda: “Tiada suatu sedekah pun yang dapat mengurangi harta.”

Muhammad saw 2 akhlak

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (al-Ahzab: 21)

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (at-Taubah: 128)

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (al-Qalam: 4)

1. Akhlak Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasalam adalah Al-Qur’an

Ketika Aisyah Radhiyallahu’anha ditanya tentang akhlak Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasalam, maka dia menjawab, “Akhlaknya adalah Al Qur’an.” (HR. Abu Dawud dan Muslim)

2. Nabi Shallallahu’alaihi Wasalam Diutus untuk Menyempurnakan Akhlak

Nabi Shallallahu’alaihi Wasalam bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Al Bazzaar)

3. Kebaikan itu adalah Akhlak yang Baik

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasalam bersabda: “Kebajikan ialah akhlak yang baik dan dosa ialah sesuatu yang mengganjal dalam dadamu dan kamu tidak suka bila diketahui orang lain.” (HR. Muslim

4. Rasulullah adalah orang yang paling dermawan

Anas Radhiyallahu’anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasalam adalah orang yang paling baik, paling dermawan (murah tangan), dan paling berani”. (HR. Ahmad)

5. Nabi Shallallahu’alaihi Wasalam Selalu Ramah Pada Siapapun, Bahkan pada Maula (Pembantu Rumah Tangga Beliau)

Anas Radhiyallahu’anha, pembantu rumah tangga Nabi Shallallahu’alaihi Wasalam berkata, “Aku membantu rumah tangga Nabi Shallallahu’alaihi Wasalam sepuluh tahun lamanya, dan belum pernah beliau mengeluh “Ah” terhadapku dan belum pernah beliau menegur, “kenapa kamu lakukan ini atau kenapa tidak kau lakukan ini.” (HR. Ahmad)

6. Lebih Mencintai Allah dan Rasul-Nya

Hadis riwayat Anas Radhiyallahu’anha., ia berkata:  Nabi Shallallahu’alaihi Wasalam. bersabda: “Ada tiga hal yang barang siapa mengamalkannya, maka ia dapat menemukan manisnya iman, yaitu orang yang lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya daripada yang lain, mencintai orang lain hanya karena Allah, tidak suka kembali ke dalam kekufuran (setelah Allah menyelamatkannya) sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)

Nabi Shallallahu’alaihi Wasalam bersabda: “Tiada seorang beriman hingga aku lebih dicintai dari ayahnya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari)

7. Rasulullah Pembawa / Penyebar Rahmat

Nabi Shallallahu’alaihi Wasalam bersabda: “Aku Muhammad dan Ahmad (terpuji), yang dihormati, yang menghimpun manusia, nabi (penyeru) taubat, dan nabi (penyebar) rahmat.” (HR. Muslim)

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”(Al-Anbiya: 107)

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Al-Jumu’ah: 2)

Sedikit catatan kali ini semoga bisa menambah wawasan, ilmu, dan semangat kita untuk meneladani Rasulullah Saw. Dengannya, mudah-mudahan hidup kita menjadi lebih terarah, lebih baik, dan juga mendapat syafa’at dari Rasulullah kelak di hari akhir. Amin.

Muhammad SAW 1 akhlak

 

 

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (TQS. al-Ahzab [33]:21).

Allah SWT berfirman: Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah (TQS al-Hasyr [59]: 7). 

Satu kali Sayyidah Aisyah juga pernah ditanya bagaimana akhlaknya Nabi Muhammad, beliau menjawab,
“Nabi Muhammad itu akhlaknya adalah Al Quran.”
Apa maksudnya?
Al Quran bercerita tentang orang-orang yang sabar.
Ketahuilah, Nabi Muhammad adalah yang nomor satunya.
Ketika Al Quran bercerita tentang orang-orang yang sholat khusyuk, maka Nabi Muhammad adalah orang yang nomor satunya.
Ketika Al Quran memerintahkan tentang sedekah, ikhlas, memaafkan siapa saja yang bersalah, maka Nabi Muhammad adalah orang yang nomor satunya.
Andai ada orang yang tidak membaca sekalipun, melihat Nabi Muhammad, bisa terbayang isinya Al Quran itu seperti apa.

Akhlak Rasulullah pada Allah
Sayyidah Aisyah menceritakan, Rasulullah SAW sholat malam hingga kakinya bengkak. Ketika ditanya oleh Aisyah, “Ya Rasulullah, mengapa engkau memaksakan diri sampai sedemikian? Bukankah jika engkau lakukan itu karena takut kepada Allah? Bukankah Allah telah menjaminmu, mengampuni seluruh kesalahn dan dosamu jika ada yang lalu maupun yang akan datang?”

Nabi tersenyum dan mengatakan, “Wahai Aisyah, jika aku telah diberi segala sesuatunya oleh Allah SWT, ampunan, jaminan, surga, cinta, kasih sayang Allah, diangkat jadi Rasul, diangkat jadi manusia paling mulia di sisinya, diangkat jadi manusia paling dicintai di hadapan Allah, bukankah aku ingin jadi seseorang hamba yang mengerti bagaimana berterima kasih kepada Tuhannya? Bukankah aku ingin jadi seseorang hamba yang bersyukur atas segala nikmat dan karunia dari Tuhannya?”

Akhlaknya kepada Allah adalah, beliau selalu bersyukur atas apapun yang sudah Allah berikan padanya. Itu nilai tingkatan akhlak yang paling tinggi. Dikasih apa saja, sikapnya tidak hanya sabar, tapi juga berterima kasih. “Ya Allah, Engkau datang kepadaku dengan anugerah yang tidak ada habis-habisnya. Tapi maafkan aku yang selalu datang kepada-Mu dengan dosa-dosa yang juga tidak ada habis-habisnya,” ucapnya tiap pagi dan petang. Padahal Nabi tidak punya dosa.

Akhlak Rasulullah pada Sesama Hamba Allah
Saya melihat jika ada orang yang benci pada Nabi Muhammad di zamannya Nabi Muhammad saat masih hidup, pasti dia adalah orang kafir. Karena tidak ada orang Islam yang tidak suka pada Nabi Muhammad. Dan orang kafir pun, kalau sebenarnya hatinya ada kemungkinan baiknya, pasti akan jatuh cinta pada Rasulullah SAW. Semua syarat jatuh cinta kepada seseorang, kumpul pada diri Nabi Muhammad: wajahnya tampan, senyumnya manis, tubuhnya bagus, wangi lagi, apalagi akhlaknya yang paling baik.

 

Ada perbandingan orang yang berusaha berakhlak mulia, yaitu yang di dalam hatinya tidak timbul suatu ucapan atau perbuatan. Sementara yang akhlaknya mulia, antara hati dan tingkah lakunya sudah sama-sama baik. Sementara Nabi Muhammad, hatinya justru lebih baik daripada dzahir-nya. Kalau hatinya Nabi dibuka, semua isinya rahmat dan cinta. Makanya yang keluar di dalam diri beliau adalah tindak tanduk yang semuanya mulia. 

 

Bersama dengan kemuliaan itu, beliau tawadhu sekali. Pernah Nabi, diundang ke rumah sahabatnya. Kemudian budaknya datang membawakan makanan buat Nabi sambil gemetaran seluruh badannya. Nabi kemudian berkata, “Bu, santai saja, tenang saja, Saya ini hanya anaknya Abdullah bin Muthalib. Saya ini cuma orang yang suka makan ikan asin (jika di tempat kita, ikan asin sama dengan makanan-makanan rendah– red). Ibu tidak usah ketakutan seperti itu.”

 

Bahkan kepada makanan pun Nabi tidak pernah mencelanya. Saat di rumahnya hanya ada roti dan cuka, beliau memakannya secara bersamaan. Ketika ditanya oleh isterinya bagaimana rasanya, beliau menjawab sambil tersenyum, “Saya baru tahu lauk yang paling enak itu cuka.” Subhanallah

Copas

 

 

 

 

Keuntungan saham

KEUNTUNGAN MEMBELI SAHAM

Keuntungan apa yang akan Anda dapatkan dengan membeli saham atau kepemilikan dari sebuah perusahaan?

Yang pertama, kalau perusahaan mengalami untung (laba), maka biasanya Anda mendapatkan pembagian keuntungan yang disebut dividen. Ambil contoh, bila dari per lembar saham Anda mendapat dividen Rp 100 per lembar sahamnya, maka dengan 3.000 saham yang Anda miliki, total dividen yang Anda dapatkan adalah Rp 300.000. Tentu saja patokan besarnya dividen berbeda-beda antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya. Tapi prinsipnya kurang lebih sama saja. Makin banyak saham yang Anda miliki, makin besar pula dividen yang Anda dapat bila memang perusahaan untung.

Keuntungan kedua, bisa saja nilai saham Anda naik. Kembali kita misalkan Anda membeli saham seharga Rp 1.000. Nah, bila kemudian makin banyak yang ingin membeli saham perusahaan, maka mungkin saja harga saham tersebut meningkat jadi ­ katakan Rp 1.400 per lembar. Dengan demikian, bila Anda menjualnya, ini berarti Anda mendapatkan keuntungan sebesar 40 persen. Keuntungan seperti ini disebut capital gain. Ke mana Anda menjual saham itu? Bukan ke perusahaan yang menerbitkan saham bersangkutan, tapi pada orang lain yang memang ingin memiliki saham tersebut.

Tentu saja investasi dalam bentuk saham juga berisiko. Yakni, turunnya harga saham yang Anda miliki. Misalnya saja dari Rp 1.000 turun jadi Rp 600 per lembar saham. Bila Anda menjualnya, maka Anda akan rugi Rp 400 per lembar sahamnya. Kerugian seperti ini biasa disebut capital loss. Ke mana Anda menjualnya? Juga ke orang lain yang memang ingin memiliki saham tersebut.

Dalam prakteknya, tiap hari ada banyak orang menjual atau membeli saham. Namun transaksi jual beli ini tidak bisa di sembarang tempat. Peraturan mengharuskan, penjualan dan pembelian saham harus dilakukan di sebuah tempat khusus yang disebut bursa. Bursa kurang lebih sama artinya dengan pasar, yaitu tempat bertemunya penjual dan pembeli.

Bursa ini disebut bursa saham, atau di Indonesia lebih dikenal dengan nama bursa efek (dalam Kamus Bahasa Indonesia, efek adalah surat berharga). Kenapa dinamakan bursa efek? Ini karena dalam bursa ini kita tidak hanya bisa menjual atau membeli saham, tapi juga surat berharga lain selain saham (kita akan bahas di lain waktu).

Orang-orang yang memperjualbelikan saham ini disebut investor (pemodal). Apakah seorang investor yang ingin membeli atau menjual saham harus datang langsung ke Bursa Efek untuk bisa bertransaksi? Tidak. Dalam prakteknya, investor cukup menggunakan jasa perantara yang disebut dengan pialang. Di BEI ada banyak perusahaan jasa pialang yang beroperasi. Mereka menjadi anggota BEI.

Keuntungan memakai jasa pialang adalah di mana pun Anda berada di seluruh Indonesia, Anda tetap bisa menelepon Perusahaan Pialang Anda dan memberikan order jual atau beli, sehingga pialang Anda yang melakukan transaksi jual beli itu untuk Anda. Anda sendiri sebagai investor tidak perlu tahu dari investor mana Anda membeli saham Anda. Begitu pula kepada investor mana Anda menjual saham Anda. Ini karena investor harus menggunakan jasa pialang, dan antarpialang-lah yang saling bertemu.

Copas