Modelling/benchmark 1

Tuntunan Rasulullah S.A.W Untuk Kehidupan Keseharian Kita

“Siapapun yang ingin hidup ini bahagia, mulia, dan bermartabat, maka pelajari dan tirulah Nabi Muhammad S.a.w dengan segenap keikhlasan”

Hendaknya kita selalu menjaga Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam kehidupan kita, semoga Allah yang Maha Agung mengkaruniakan kita kecintaan dan kerinduan kepada Rasulullah S.a.w, dan kita menjalankan sunnahnya dengan penuh ketulusan, karena dalam keadaan cinta kepada Beliau S.a.w.

Kaum muslimin dan muslimat tanpa terkecuali tentunya sangat ingin untuk mengikuti semua tuntunan Nabinya, berikut sedikit di antara Sunnah-sunnah Nabi S.a.w yang dapat kita terapkan langsung dalam keseharian kita:

Mendahulukan yang Kanan

Dari Ali R.a, bahwa Rasulullah S.a.w bersabda: “Apabila seseorang di antara kalian memakai sandal, hendaknya ia mendahulukan kaki kanan, dan apabila melepas, hendaknya ia mendahulukan kaki kiri, jadi kaki kananlah yang pertama kali memakai sandal dan terakhir melepaskannya.”. (Muttafaq Alaihi).

Dari Aisyah R.a: “Bahwa Nabi S.a.w menyukai memulai dengan bagian yang kanan, dalam memakai sandalnya, dalam menyisir rambutnya, dalam bersucinya, dan dalam gerak-geriknya”. (Shahih Bukhari).

Rasulullah S.a.w dalam banyak perbuatannya senantiasa mendahulukan bagian anggota yang kanan, Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani menyebutkan dengan menukil ucapan Al Imam An Nawawi bahwa ucapan Beliau S.a.w: ” وفي شأنه كله (dalam segala perbuatannya)“, menunjukkan kalimat ‘aam makhsuus (kalimat umum yang dikhususkan), yang mana tidak semua perbuatan yang Beliau S.a.w kerjakan dimulai dari anggota yang kanan, sebagaimana banyak perbuatan yang Beliau mulai dengan anggota yang kiri, seperti ketika masuk ke dalam kamar mandi, atau ketika keluar dari masjid, dan lainnya.

Dari Ibnu Umar R.a, bahwa Rasulullah S.a.w bersabda: “Apabila seseorang di antara kalian makan hendaknya ia makan dengan tangan kanan dan minum hendaknya ia minum dengan tangan kanan, karena sesungguhnya setan itu makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya.”. (Riwayat Muslim).

Senyum dan Salam (Mengucapkan dan Menjawab)

Jangan Sekali-kali meremehkan sesuatu perbuatan baik walaupun hanya sekedar senyuman. Dari Abu Dzar R.a, dia berkata, Rasulullah S.a.w bersabda, “Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu.”. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban).

Dari Abdullah bin Al Harits bin Jaz`i R.a dia berkata, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang paling banyak senyumannya selain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.”. (HR. Tirmidzi).

Dari Jarir bin Abdillah R.a dia berkata, “Sejak aku masuk Islam, Rasulullah S.a.w tidak pernah menolak aku untuk duduk bersama Beliau. Dan tidaklah Beliau melihatku kecuali Beliau tersenyum kepadaku.”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Mengucapkan salam, hukumnya adalah sunnah, sedangkan bagi yang mendengarnya, wajib untuk menjawabnya. Ucapan Assalamu ‘Alaikum atau lengkapnyaAssalamu ’Alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh, yang artinya “Semoga kedamaian dilimpahkan kepadamu diiringi dengan rahmat dari Allah dan juga barakah dari Allah untukmu”, yang diucapkan sesama muslim, adalah sunnah Nabi Muhammad S.a.w. Adapun jawabannya adalah Wa ’Alaikumus salaam, atau lengkapnya Wa ’Alaikumus Salam wa Rahmatullah wa Barakatuh.

Kita sangat dianjurkannya kita untuk mengucapankan salam antara sesama muslim, sebagaimana hadist Nabi Muhammad S.a.w, berikut:

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah R.a, Rasulullah S.a.w bersabda, “Kamu tidak dapat memasuki surga kecuali bila kamu beriman. Imanmu belumlah lengkap sebelum kamu berkasih sayang satu sama lain. Maukah kuberitahukan kepadamu sesuatu yang, jika kamu kerjakan, kamu akan menanamkan dan memperkuat kasih sayang di antara kamu sekalian? Tebarkanlah ucapan salam satu sama lain, baik kepada yang kamu kenal maupun yang belum kamu kenal.”. (HR Muslim).

Abu Umammah R.a meriwayatkan, Rasulullah S.a.w bersabda, ”Orang yang lebih dekat kepada Allah S.w.t adalah yang lebih dahulu memberi salam.”. (Musnad Ahmad, Abu Dawud, dan At Tirmidzi).

Hadist riwayat Abu Hurairah R.a, ia berkata: Rasulullah S.a.w. bersabda: “Seorang pengendara hendaknya mengucapkan salam kepada pejalan kaki dan pejalan kaki mengucapkan salam kepada orang yang duduk dan jamaah yang beranggota lebih sedikit mengucapkan salam kepada jama’ah yang beranggota lebih banyak”. (Shahih Muslim No.4019).

Hadist riwayat Abu Hurairah R.a, ia berkata: Rasulullah S.a.w bersabda: “Ada lima kewajiban bagi seorang muslim terhadap saudaranya yang muslim; menjawab salam, mendoakan orang yang bersin, memenuhi undangan, menjenguk orang sakit dan mengiring jenazah”. (Shahih Muslim no. 4022).

Hadis riwayat Anas bin Malik R.a: Rasulullah S.a.w pernah melewati anak-anak lalu Beliau mengucapkan salam kepada mereka. (Shahih Muslim no. 4031).

Makan dan Minum dalam Keadaan Duduk

Rasulullah S.a.w bersabda: “Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian minum sambil berdiri. Apabila dia lupa maka hendaknya dia muntahkan.”. (HR. Muslim no. 2026).

“Bagaimana dengan makan (sambil berdiri)?”Anas menjawab, “Itu lebih parah dan lebih jelek.” (HR. Muslim no. 2024).

Menyambung Silaturrahmi (Kepada Kerabat, Teman, Tetangga, dst)

Hadist riwayat Anas bin Malik R.a, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah S.a.w bersabda: “Barang siapa yang merasa senang bila dimudahkan rezekinya dan dipanjangkan usianya, maka hendaklah dia menyambung hubungan kekeluargaan (silaturahmi)”. (Shahih Muslim no. 4638)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Tidak ada dosa yang Allah cepatkan adzabnya kepada pelakunya di dunia ini di samping adzab yang telah Dia sediakan untuknya di akhirat daripada berlaku Dzalim dan Memutuskan Silaturrahmi”. (al-Adab al-Mufrad, No. 29)

Memenuhi Undangan dan Menjenguk Orang Sakit

Hadis riwayat Ibnu Umar R.a, ia berkata: Rasulullah s.a.w bersabda: “Apabila seorang di antara kamu diundang untuk menghadiri pesta perkawinan, maka hendaklah ia menghadirinya”. (Shahih Muslim No. 2574)

Hadis riwayat Abu Hurairah R.a, ia berkata: Rasulullah S.a.w bersabda: “Ada lima kewajiban bagi seorang muslim terhadap saudaranya yang muslim; menjawab salam, mendoakan orang yang bersin, memenuhi undangan, menjenguk orang sakit dan mengiring jenazah”. (Shahih Muslim no. 4022)

Shalat Tahajjud

Kemuliaan seorang mukmin terletak pada tahajjudnya.

Nabi S.a.w bersabda, “Laku­kanlah oleh kalian shalat malam, karena hal itu merupakan kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian, pendekat­an diri kepada Allah Ta`ala, pencegah dari dosa, penghapus segala kesalahan, dan penolak penyakit dari tubuh.”.

Beliau S.a.w juga bersabda, “Dua raka’at di tengah malam yang dilakukan oleh se­orang anak Adam  lebih baik daripada dunia dan seisinya. Dan jika saja tidak memberatkan umatku, niscaya aku me­wajibkan dua raka’at shalat malam ter­sebut kepada mereka.”.

Diriwayatkan bahwa Allah membang­gakan orang-orang yang melakukan shalat malam kepada para malaikat. Allah S.w.t berfirman:“Lihatlah hamba-hamba-Ku. Sungguh mereka telah melakukan shalat di kegelapan malam, sehingga tidak ada yang melihat mereka selain Aku. Aku bersaksi kepada kalian bahwasanya Aku mempersilakan mereka me­nempati negeri kemuliaan-Ku.”.

Kemudian setelah shalat, mohon ampunlah untuk kaum muslimin dan muslimat, mukminin mukminat (orang-orang beriman, laki-laki dan perempuan). Nabi S.a.w ber­sabda, “Barang siapa memohonkan ampunan kepada Allah bagi orang-orang beriman laki-laki dan perempuan, nis­caya, dari setiap orang beriman laki-laki dan perempuan, Allah menuliskan bagi­nya satu kebaikan.”.

Membaca Al-Qur’an.

Al Quran merupakan kitab suci sempurna yang mengulas berbagai aspek kehidupan. Sebelum terbit matahari, alangkah baiknya mata membaca Al-Qur’an terlebih dahulu sebelum melihat dunia, sebaiknya dengan penuh penghayatan.

Allah S.w.t berfirman: “Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa”. (QS Al-Baqarah [2]: 2).

“Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al Quran) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman”. (QS Al-‘Ankabut [29]: 51).

Shalat Berjama’ah di Masjid

Sebelum melangkah ke mana pun, langkahkan kaki ke masjid, karena masjid merupakan pusat keberkahan, bukan karena panggilan muadzin, tetapi panggilan Allah yang menyeru kepada orang beriman untuk memakmurkan masjid Allah.

Rasulullah S.a.w pernah bersabda:“Sesungguhnya Shalat Subuh dan dan Shalat Isya’ secara berjama’ah di masjid sangat sulit dikerjakan oleh orang-orang yang munafik”. Maukah gelar ini melekat pada diri kita? Tentu tidak. Maka marilah kita bangun pagi untuk melaksanakan perintah Allah.

Allah S.w.t akan mengubah apa yang terjadi di muka bumi ini dari kegelapan menjadi keadilan, dari kerusakan menuju kebaikan. Semua itu terjadi pada waktu yang mulia, ialah waktu Subuh. Berhati-hatilah, jangan sampai tertidur pada saat yang mulia ini. Allah SWT akan memberikan jaminan kepada orang yang menjaga shalat Subuhnya, yaitu terbebas dari siksa neraka jahanam.

Diriwayatkan dari Ammarah bin Ruwainah R.a, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah S.a.w bersabda: “Tidak akan masuk neraka, orang yang shalat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam matahari”. (HR Muslim).

Shalat Subuh merupakan hadiah dari Allah S.w.t. Hadiah ini tidak diberikan, kecuali kepada orang-orang yang taat lagi bertaubat. Hati yang gemar kemaksiatan, bagaimana mungkin akan bangun untuk shalat Shubuh. Orang munafik tidak mengetahui kebaikan yang terkandung dalam shalat Subuh berjama’ah di masjid. Sekiranya mereka mengetahui kebaikan yang ada di dalamnya, niscaya mereka akan pergi ke masjid, bagaimanapun kondisinya, seperti sabda Rasulullah S.a.w, “Maka mereka akan mendatanginya, sekalipun dengan merangkak”.

Shalat Dhuha

Ada banyak keutamaan dibalik shalat Dhuha, pelakunya diampuni dosanya, rezekinya diluaskan sepanjang hari, dan dimasukkan ke surga melalui pintu Dhuha. Bahkan, siapa saja yang mengerjakan shalat Dhuha secara kontinyu (dawam, rutin), pahalanya bisa menyamai pahala ibadah haji (bagi yang belum mampu). Dengan menunaikan shalat Dhuha, kita sedang memberikan makna yang luhur atas pekerjaan dan tugas sehari-hari yang akan kita selesaikan. Kita bekerja juga merupakan sebuah tugas mulia dan semestinya dimulai dengan mengingat Allah S.w.t, agar keberkahan dan semangat melewati proses kerja dilimpahkan oleh-Nya. Sebab, dengan shalat Dhuha, kita memohon kepada-Nya untuk menjadi Pelindung.

Dari Abu Dzarr Ra., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap pagi, pada ruas tulang kalian terdapat sedekah,
setiap ucapan tasbih (Subhanallah) adalah sedekah,
setiap ucapan tahmid (Alhamdulillah) adalah sedekah,
setiap ucapan tahlil (Laa Ilaha illallah) adalah sedekah,
setiap ucapan takbir (Allahu Akbar) adalah sedekah,
memerintah kebaikan adalah sedekah,
mencegah perkara mungkar adalah sedekah,
dan dua raka’at yang dikerjakan seseorang dalam shalat Dhuha telah mencakup semuanya.”.
(HR.Muslim)

Sedekah (setiap hari)

Allah S.w.t menyukai orang yang suka bersedekah, dan malaikat Allah selalu mendoakan kepada orang yang bersedekah setiap hari.

Sedekah memiliki banyak keutamaan, (terutama yang dilakukan pada bulan Ramadhan). Di antara keutamaan sedekah adalah menyucikan diri dari dosa-dosa kecil, menunjukkan rasa syukur, menghilangkan sifat kikir pada diri seseorang, ‘membersihkan’ harta yang dimiliki, dan membantu meringankan beban kaum dhuafa.

Allah S.w.t berfirman: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (QS Al-Baqarah [2]: 261).

Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari tentang salah seorang wanita bertanya kepada Rasul S.a.w, “Wahai Rasulullah, aku punya harta yang lebih, boleh tidak aku sedekahkan pada suamiku dan anakku? boleh tidak sedekah kepada kerabat sendiri?”, maka Rasul S.a.w menjawab:“Untukmu dua pahala, yang pertama kau dapat pahala shadaqah dan yang kedua kau dapat pahala menyambung silaturahmi dengan kerabatmu”.

Sering dipertanyakan, mana yang lebih didahulukan, umum atau keluarga sendiri?. Justru keluarga sendiri dulu, baru orang lain. Bahkan kepada keluarga sendiri, kata Rasul S.a.w, ada dua pahala, yaitu pahala sedekah dan pahala menyambung kekerabatan. Demikian indahnya tuntunan Nabiyyuna Muhammad S.a.w.

Untuk sedekah dalam bentuk materitentunya kita semua telah banyak memahaminya, namun perlu juga kita sadari bahwa sedekah tidaklah semata-mata dalam bentuk materi (harta atau benda), sebagaimana hadist berikut, Dari Abu Dzarr Jundub bin Junadah R.a., ia bertanya kepada Rasulullah Saw: “Amal apakah yang paling utama?” Beliau S.a.w menjawab: “Iman kepada Allah dan berjuang di jalan-Nya.” Saya bertanya: “Memerdekakan budak yang bagaimana yang paling utama?” Beliau S.a.w menjawab: “Memerdekakan budak ketika sangat disayang oleh tuannya dan yang paling mahal harganya .” Saya bertanya: “Seandainya saya tidak mampu berbuat yang sedemikian, lalu bagaimana?” Beliau S.a.w menjawab: “Kamu membantu orang yang bekerja atau kamu menyibukkan diri agar hidupmu tidak sia-sia.” Saya bertanya lagi: “Wahai Rasulullah, bagaimana jika saya tidak mampu melakukan sebagian pekerjaan itu?” Beliau S.a.w menjawab: “Janganlah kamu berbuat kejahatan kepada sesama manusia, karena sesungguhnya yang demikian itu termasuk sedekah untuk dirimu.”. (HR.Bukhari dan Muslim).

Hiduplah untuk berbagi, sebab dengan berbagi kita semakin berarti. Berbagi erat kaitannya dengan memberi. Inilah yang dimaksudkan oleh Nabi SAW dalam hadits,“Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya.”. (HR Al-Thabarani)

Jaga Wudhu (terus menerus).

Allah menyayangi hamba yang berwudhu. Kata khalifah Ali bin Abu Thalib, “Orang yang selalu berwudhu senantiasa ia akan merasa selalu shalat walau ia sedang tidak shalat, dan dijaga oleh malaikat dengan dua doa, “Ampuni dosa dan sayangi dia Ya Allah”.

Diriwayatkan dari Nabi S.a.w bahwa­sanya Beliau bersabda, ”Barang siapa hendak tidur dan ingin terbangun di waktu tertentu, hendaknya ia tidur dalam kondisi berwudhu, dan ketika hendak tidur membaca ayat yang artinya, ”Kata­kanlah, ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku… — hingga akhir surah.’.” (QS Al-Kahfi: 110). Lalu mengusap dadanya dengan tangan kirinya dan mengucapkan Allahumma nabihni fi waqti kadza atau fi sa`ati kadza (Ya Allah, bangunkan aku di waktu ini atau jam sekian). Maka ia akan terba­ngun di waktu tersebut dengan pasti.”.

Rasulullah S.a.w bersabda: “Barangsiapa tidur dimalam hari dalam keadaan suci (berwudhu’) maka malaikat akan tetap mengikuti, lalu ketika ia bangun niscaya malaikat itu akan berucap ‘Ya Allah ampunilah hamba-Mu si fulan, karena ia tidur di malam hari dalam keadaan selalu suci’.”. (HR Ibnu Hibban dari Ibnu Umar R.a).

Istighfar (setiap saat)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, ”Bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah Ta’ala. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya setiap hari sebanyak seratus kali”. (Riwayat Al Bukhari dalam Adab Al Mufrad dan dihasankan oleh Al Hafidz As Suyuthiy). Al Hafidz Al Ala’iy menjelaskan bahwa maksud taubat di hadits itu adalah taubat istighfar, yang mana Rasulullah S.a.w banyak melakukannya.

Istigfar bukanlah sekedar ucapan dzikir belaka, tetapi di dalamnya terkandung nilai ibadah yang begitu besar, sebagaimana sabda Rasulullah S.a.w: “Tidaklah tergolong orang berdosa, orang yang selalu beristigfar meskipun dia mengulangi perbuatan dosanya sebanyak 70 kali dalam sehari.”. (HR Tirmidzi).

Dengan istighfar, masalah yang terjadi karena dosa kita, akan dijauhkan oleh Allah S.w.t.

Bershalawat Kepada Nabi S.A.W

Ubay bin Ka’ab R.a bertanya kepada Rasulullah S.a.w, “Wahai Rasulullah, berapa banyak saya harus mengucapkan shalawat untukmu?” Rasulullah menjawab,“Sesukamu.” Lalu Ubay bertanya lagi,“Apakah seperempat atau dua pertiga?”Rasulullah menjawab, “Sekehendakmu. Dan jika engkau tambahkan, maka itu lebih baik”. Jadi, makin banyak kita bershalawat kepada Nabi, maka akan semakin bagus. Ini adalahjaminan dari Rasulullah S.a.w. Lalu Ubay kemudian bertanya lagi, “Apakah shalawatku untukmu seluruhnya?” Rasulullah S.a.w menjawab, “Karena itu, dosamu akan diampuni, dan kesedihanmu akan dihilangkan”.

Siti Aisyah R.a pernah bertanya kepada Rasulullah S.a.w, “Siapakah yang tidak akan melihatmu pada hari kiamat?” Jawab Rasulullah S.a.w: “Orang yang bakhil (pelit)”. Siti Aisyah bertanya lagi: “Siapakah orang yang bakhil itu?” Jawab Baginda S.a.w: “Orang yang ketika disebut namaku di depannya, dia tidak mengucap shalawat ke atasku.”

Shalawat kepada Nabi Muhammad S.a.w menjanjikan pahala yang sangat besar. Rasulullah S.a.w bersabda, “Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan bershalawat (melimpahkan rahmat) kepadanya sepuluh kali”. (HR. Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, Nasa’i dan Ahmad)

Satu shalawat-Nya Allah untuk hamba sudah pasti jauh lebih baik dari pada dunia beserta isinya..!!. Siapa yang bershalawat kepada Nabi sewaktu duduk, ia akan diampuni sebelum berdiri dan siapa yang bershalawat kepada Beliau S.a.w sewaktu hendak tidur, ia akan diampuni sebelum bangun. Shalawat merupakan guru bagi mereka yang tak memiliki guru, karenanya shalawat tidak butuh guru maupun khusyu dalam membacanya, tetapi akan lebih sempurna jika diucapkan dengan hati yang khusyu.

“Bahkan Riya’ atau mengharapkan pujian manusia pun tidak dapat menghapuskan pahala shalawat”

Wal Akhir, perlu kita ingat dalam menjalankan sunnah terdapat perbedaan antara i’tiba (mengikuti) dan mahabbah(mencintai), bahwa menjalankan sunnah Nabi S.a.w janganlah hanya pada dhohirnya (gerak-gerik) saja yaitu mengikuti Nabi Muhammad S.a.w yang tanpa dibarengi ‘ruh mengikuti’. Dan ruh mengikuti itu adalah cinta (mahabbah) kepada Nabi Muhammad S.a.w. Alangkah banyaknya kelalaian kita akan ruh mengikuti ini. Mengikuti Nabi Muhammad S.a.w belum tentu cinta akan tetapi yang mencintai Nabi Muhammad S.a.w pasti akan patuh dan mengikuti (i’tiba) Rasulullah Nabi Muhammad S.a.w.

Jagalah selalu sunnah-sunnah baginda Nabi besar Muhammad S.a.w

Allahuma Shalli ‘Ala Sayyidina Muhammad wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallim

Wassalam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s