Tkw miliader 8

Pertemuan dengan Mbak Lik

Alhamdulillah…
Segala puji Tuhan yang sudah memberiku rezeki melimpah ini dan kelancaran dalam segala hal.

Tiba saatnya bulan madu ke Hongkong.
Satu minggu sesudah pernikahan, aku memutuskan berangkat ke hk.
Aku mengajak suamiku, senangnya sekarang kemana-mana ada yang menemani.

Hari pertama aku sengaja menghabiskan untuk beristirahat dan menghabiskan waktu dengan suami.
Hari kedua, hari minggu, aku menemui saudaraku, Eli, keponakanku.
Hari ketiga aku menemui Dewi.
Dan hari ke empat, aku menemui Mbak Lilik.

Aku biasa memanggilnya Mbak Lik. Aku mengenalnya waktu aku menjalankan bisnis Tianshi dulu sewaktu masih jadi tkw di hk, entah bagaimana awal bertemunya. Tapi kemudian beliau menjadi orang yang paling akrab di timku, dan tim gajahku waktu itu.
Beliau orang yang paling baik, keibuan dan sangat sayang padaku.
Saat aku dalam masa overstay, beliaulah yang paling banyak menolongku baik mental maupun material. Dan aku masih berhutang uang padanya, entah berapa.

Silaturahim kami terputus, ketika beliau kecewa dengan sikapku, bukan karena soal uang, tapi aku yang lebih egois dengan kehidupanku sendiri.
Sejak saat itu tak ada lagi kontak ataupun kabar berita.
Entah bagaimana beliau selanjutnya.
Dan terakhir, saat aku bisa kontak dengan Dewi, dari Dewi kutahu, beliau sudah tak mau lagi berhubungan denganku. Terlalu sakit baginya. Astaghfirullohal adzim. Sebegitu marahnya beliau sama aku.

Dan aku berjanji akan mencari beliau, saat aku berhasil kembali ke HK. Dan hari ini, aku berhasil kembalivke HK, dalam keadaan yang jauh lebih baik, seperti doaku. Aku minta sama Allah, agar kami kelak bisa bertemu saat aku sudah lebih baik.
Dan Allah Maha Pemurah, Maha Mengabulkan doa.

Hari ini, aku bersiap menemui Mbak Lilik di rumahnya, kata Dewi, dia masih bekerja di tempat yang sama. Aku lupa alamatnya, tapi aku masih ingat jalan kesana, dengan bekal feeling, aku menemuinya. Aku tak mengajak suamiku, aku ingin hari ini menjadi  momen antara aku dan Mbak Lilik.

Dengan sejuta perasaan yang entah bagaimana menggambarkannya, dalam doa, semoga semua lancar hari ini.
Aku pergi ke tempat bis, aku coba no 2. Jurusan …, harap-harap cemas, dag dig dug, semoga bertemu langsung, dan dia yang membukakan pintu, sepanjang perjalanan, aku berafirmasi dan bervisualisasi terus tentang dirinya.

Akhirnya, bis sampai juga, aku turun, dengan berdebar-debar dan sok sudah biasa, aku pura-pura tak melihat satpam, aku pura-pura tenang santai berjalan menurut feeling, sampailah aku di blok…, aku masuk,menuju lif, dan kucoba lantai 23. Tepat diluar lif, belok kiri, aku melihat pintu itu.
Rumah bos Mbak Lik.
Dulu aku sering kesini, semua masih sama, tapi sekarang dengan perasaan dan situasi yang berbeda.
Aku datang dengan bunga, sengaja aku berpura-pura menjadi pengantar bunga, antisipasi bila aku salah alamat.
Aku pencet bel pintu, dada semakin berdebar-debar, berharap langsung Mbak Lik yang membuka pintunya. Pintu terbuka, seseorang berdiri tepat di depanku, adalah beliau, Mbak Lik, sosok yang sama, masih sama, awet muda. Aku tertegun meski beliau menyapaku. Sesaat aku tersadar, lalu aku balas sapaannya.
“Suparlik haito??” tanyaku profesional.
“Hai, ngo cike…!” jawabnya.
Kusodorkan bunga, “sung pei lei.., ci meng emkoi..!! Sambil menyodorkan kertas tanda terima.
“Ok, emkoi sai” katanya, aku berbalik langkah, dia menutup pintu. Pintu tertutup aku kembali berdiri di depan pintu.aku yakin begitu dia membaca kartu ucapanku, dia akan membuka pintu lagi untukku, kalau dia sudah memaafkanku.

“Assalamualaikum
Senang sekali bisa melihat pean dalam keadaan sehat hari ini.
Dari yang sangat merindukanmu…

Agus Hariani, adekmu.”

Begitulah isi kartuku.
Dan sesaat benar, Mbak Lik membuka pintu, aku melepaskan smua atributku, topi, kacamata hitam.
Dan kami berdiri berhadapan lagi,
Dia ketus menyapaku,
“Lapo mrene?? Pintuku tertutup,” hampir dia menutup pintu lagi, tapi aku tahan.
“Apa kabar Mbak Lik, aku datang meminta maaf, tulus, jauh-jauh dari Indonesia, hanya buat pean…, masih tegakah tidak memaafkanku..” kataku memelas.
Aku langsung memeluknya, awalnya dia menolak tapi aku memaksa, kamipun berpelukan, kurasakan dia membalas pelukanku, kami bertangisan.
Dan dia bilang, sebenarnya dia sudah memaafkanku, tapi ingin melupakanku.

Akhirnya beliau mengajakku masuk. Happy ending. Kamipun melepas kerinduan. Kami saling bercerita perjalanan masing-masing. Dan kami menjadi saudara lagi.

Subhanalloh.
Alhamdulillah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s