EFT, Iseng-Iseng yang Menjerumuskan

EFT untuk Semua

Thursday, August 4, 2011

Iseng-Iseng yang Menjerumuskan

Ini pengalaman di hari-hari awal saya berkenalan dengan EFT. Dengan penuh gairah saya melahap artikel-artikel di situs Gary Craig, dan semakin dikuasai rasa penasaran untuk melihat bagaimana sang penemu teknik ini melakukan aksinya. Saya harus mendapatkan video-video Gary dan keinginan itu terwujud. Ada sensasi yang luar biasa di hari-hari pertama perkenalan dengan EFT ketika saya menyadari ada teknik yang sederhana dan mudah dilakukan untuk membereskan berbagai penyakit.

Namun, benarkah EFT berhasil membereskan “penyakit” apa saja? Ya, setidaknya itulah kesan saya ketika membaca sekian banyak pengakuan orang-orang, dari berbagai negara, yang mempraktekkan EFT dan membagikan pengalaman mereka dalam newletter Gary Craig. Dari pengalaman orang-orang itu dengan EFT, saya bisa melihat betapa tak terbatasnya yang bisa dikerjakan orang dengan EFT, sebab ia memang berurusan tidak hanya dengan penyakit tertentu—ia berurusan dengan emosi manusia dan kekacauan energi tubuh yang disebabkan oleh energi negatif. Dan kekacauan energi itulah yang memberi sumbangan besar bagi munculnya segala macam simptom.

Karena itu tidak mengherankan jika kemudian muncul berbagai eksperimen dengan EFT untuk segala macam tujuan. Ada EFT untuk meningkatkan performa, ada eksperimen untuk mengawinkan EFT dengan Hukum Tarik-Menarik dalam buku Secret. Ada EFT untuk mengatasi masalah ketidakharmonisan hubungan. Dan semua itu masuk akal jika kita kembali kepada prinsip dasar EFT: banyak “persoalan” timbul karena kekacauan energi dalam tubuh anda.

Maka terserah anda untuk memutuskan apa yang menjadi persoalan besar bagi anda. Ia bisa persoalan fisik, ketidakharmonisan hubungan, persoalan keuangan yang seret, persoalan rumah tangga, stres, minder, trauma, fobia, dan sebagainya. Sepanjang persoalan-persoalan itu berakar pada emosi negatif, yang menyebabkan kekacauan energi tubuh, maka EFT adalah alat yang sangat efektif yang menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut.

Penotokan Iseng: Menjangkau Nada Tinggi

Pada hari-hari awal itu, sebelum menerapkan EFT kepada orang-orang lain, saya terus-menerus menggarap diri sendiri. Banyak hal saya sasar, sampai suatu hari saya iseng-iseng menggenjreng gitar yang sudah lama tidak saya mainkan. Dengan keterampilan bermain gitar yang hanya sanggup mengiringi nyanyian sendiri, saya menggitar dan menyanyi. Dan karena teknik vokal hanya setingkat di bawah Luciano Pavaroti, nafas saya cepat habis dan suara saya tercekik ketika lagu yang saya nyanyikan memasuki nada tinggi. 

Sejujurnya, saya sangat paham terhadap kehebatan suara saya dan saya tidak pernah menganggap itu sebagai masalah. Saya terima keadaan saya apa adanya, toh saya tidak memendam cita-cita setinggi langit untuk berkarier sebagai penyanyi profesional. Tetapi siang itu tiba-tiba muncul pikiran iseng: karena saya mempunyai alat yang bisa “membikin betul” banyak hal, maka tidak ada salahnya saya mencoba EFT untuk mengatasi “problem” ketercekikan suara saya di nada tinggi. 

Maka saya melakukan setup: “Meskipun suara saya tercekik di nada tinggi lagu tadi, saya menerima diri saya apa adanya.” Saya ulangi tiga kali dan kemudian saya totok titik-titik EFT dengan frase pengingat “tercekik di nada tinggi”. Selesai satu putaran EFT, saya mengambil gitar saya dan mengulangi menyanyikan lagu yang mencekik leher saya. EFT bekerja sempurna. Saya mengulangi lagu tersebut dan berhasil membebaskan diri dari cekikan nada tinggi saat itu juga.

Namun ada masalah lagi di sana; saya merasa tidak pernah bisa lepas ketika menyanyi. Dan apa yang saya menyebut “menyanyi” sesungguhnya akan lebih tepat disebut menggumam. Kenapa selama ini saya hanya bisa menggumam dan tidak benar-benar menyanyi? 

Saya garap masalah ini. “Meskipun saya hanya menggumam ketika menyanyi, suara saya tidak lepas, saya menerima diri saya apa adanya.” Saya ulangi tiga kali pernyataan tersebut dan saya hajar titik-titik EFT di tubuh saya. Kali ini EFT tidak bekerja. Saya tetap menyanyi dengan gaya yang jarang anda temukan pada penyanyi mana pun di planet ini: saya tetap memendam suara saya sendiri.

Karena penasaran saya ulang lagi satu putaran EFT dengan pernyataan pembuka yang sama, hanya saya tambahkan kata “masih” dalam pernyataan itu. “Meskipun saya masih tidak rileks ketika menyanyi, suara saya masih terpendam….” Tetap gagal. Saya masih menyanyi dengan perasaan takut jika tetangga sebelah mendengar ringkikan saya. Pada saat itu terlintas begitu saja di kepala saya, kenapa saya takut suara saya didengar tetangga?

Pertanyaan seperti itu tiba-tiba memunculkan sebuah gagasan yang tidak terduga. Ya, kenapa saya takut suara saya didengar tetangga? Atau malu? Saya harus menelusuri perasaan malu saya ini, mungkin ke kejadian masa lalu yang jauh, di masa kecil saya. Apa yang membuat saya malu mengeluarkan suara saya? Kejadian-kejadian apa saja di masa lalu saya yang membuat saya meyakini bahwa suara saya memalukan dan harus dipendam? Kejadian-kejadian apa saja di masa lalu saya yang membuat saya tidak percaya diri mengeluarkan suara saya? 

Ingatan-ingatan bermunculan pada saat itu dan saya sasar satu demi satu segala kejadian yang bisa saya ingat. Kali ini EFT saya berhasil. Suara saya menjadi merdu? Oh, tidak sama sekali. Dan saya tetap menerima diri saya apa adanya, meskipun suara saya tidak merdu.

Efek Samping

Yang jelas, sampai saat ini saya tetap bisa menyanyi keras-keras dan mengiringi suara saya sendiri dengan petikan gitar sekenanya. Kualitas vokal saya masih mengerikan, dan masih tercekik-cekik di sana-sini, tetapi saya tidak malu lagi memperdengarkannya.

Dan ada efek samping yang tak pernah saya duga dari totokan iseng-iseng itu: saya merasa lebih rileks untuk tidak sekadar menyanyi, tetapi bahkan mengeluarkan pendapat, atau ketika menyatakan ketidaksetujuan saya. Jadi, begitulah, dari sebuah keisengan, saya akhirnya tiba pada masalah yang sudah bertahun-tahun mengikuti saya dan tidak pernah saya sadari sebagai masalah, yakni kesungkanan mengeluarkan suara.

Setelah beberapa pengalaman dengan diri sendiri, saya mulai berani menangani orang lain. Korban praktek saya selanjutnya adalah istri dan anak-anak saya. Istri saya mengeluh suatu hari bahwa kepalanya sakit. Masalah kecil. Lalu saya pamerkan kehebatan saya, sambil bertingkah seolah-olah saya seorang tabib sakti, menotok titik-titik EFT istri saya dan saat itu juga sakit kepalanya lenyap. Beberapa waktu kemudian, ia mengatakan sakit gigi. Saya totok lagi. Beres. Anak saya menjadi korban berikutnya. Kini saya tahu apa yang harus dilakukan untuk membuatnya gampang tidur atau sembuh dari pilek atau demam.

Karena itu, saran saya, silakan iseng menggunakan EFT untuk apa saja.

Salam,
A.S. Laksana

N.B. Untuk iseng-iseng dengan EFT, anda paling banter hanya membutuhkan waktu beberapa menit sehari. Lakukan untuk apa saja.

A.S. Laksana at 7:07 PM

Share

 

1 comment:

Cara Cari Uang Di InternetMay 18, 2015 at 8:58 AM

kok jadinya curhat gan

Reply

Links to this post

Create a Link

Home

View web version

Powered by Blogger.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s