Allah dan aku

BerandaMateriDukungan PresentasiAcaraMitraKomunitasTentang KamiLoginDaftar

Berita & Artikel

2014-03-04
Kepada Siapa Anda Menghamba?
Drs. S. Hamdani, MA
Pemandu Utama Pncerahan Liqa Allah

 Seberapa dalam pengetahuan anda tentang Allah, padahal tiap hari anda berdoa kepada-Nya. Sudahkah kesadaran anda merasakan kehadiran Allah dalam setiap nafas yang anda hirup? Sudahkah anda merasakan kekuatan Allah yang meliputi alam semesta, jiwa raga anda, ruh anda dan seluruh aktifitas anda?

Bangsa ini mengalami krisis spiritual. Berdampak pada semua aspek kehidupan!

(QS. Al-Hadid, 57 : 20)
Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. 

(QS. Al- Ankabut, 29 : 64).
Dan Tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.

(QS. Ar-Ruum, 30 : 7)
Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai. 

KEHIDUPAN DUNIA BUKAN REALITAS YANG SEBENARNYA
Kehidupan dunia ini ibarat mimpi dalam tidur. Oleh sebab itu, yang harus diubah bukan mimpinya, tetapi manusia harus dibangunkan dari tidur lelapnya di alam bendawi, agar bisa menyaksikan kenyataan yang sebenarnya. 

Rasulullah bersabda, “Manusia itu tidur dalam hidupnya, dan ketika mati dia bangun”. Rasulullah juga bersabda, “Matilah sebelum mati”. Mati itu ada dua macam. Pertama, mati yang sudah ditentukan waktunya, yaitu terpisahnya ruh dengan jasad. Kedua, mati pilihan, yaitu mati dalam arti fana Afal , Asma, Sifat, dan Dzat. Yang dimaksudkan Rasulullah adalah mati pilihan, yaitu ketika manusia bangun tidur sehingga bisa menyaksikan Afal (perbuatan), Asma (nama-nama), Sifat, dan Dzat Allah sebagai kenyataan yang sebenarnya.

Dalam hidupnya yang sebentar di dunia ini, manusia tidak dibenarkan hanya berurusan dengan benda-benda dan semacamnya. Manusia harus menyadari asal-usulnya, dasar wujudnya, sumber kekuatannya, tempat bergantunnya dan tempat kembalinya, yaitu Allah. 

Kehidupan dunia berupa alam semesta dan isinya ini bukanlah realitas yang sebenarnya. Apa yang tampak, dilihat dan ditangkap panca indera itu hanyalah penampakan dan bukan kenyataan yang sebenarnya. Itulah sebabnya, Allah SWT. mengirimkan para Malaikat, Kitab suci, para Rasul dan para Nabi-Nya, agar manusia bisa mengetahui dan mengenal Allah yang sebenarnya. 

Pada akhirnya, semua orang, cepat atau lambat, suka atau tidak suka, siap atau tidak siap, terpaksa atau tidak terpaksa pasti harus meninggalkan alam semesta dengan segala isinya untuk kembali kepada Allah sebagai asal-usul dan tempat kembalinya (QS. 2 : 156). Dengan fakta ini, apa jadinya jika manusia tidak mengetahui Allah sebagai tempat kembalinya. 

REALITAS YANG SEBENARNYA ADALAH ALLAH
Realitas yang sebenarnya itu adalah wujud yang mutlak, yang tak terbatas dan yang Esa, yaitu Allah. Sedangkan yang selain-Nya adalah wujud yang nisbi, terbatas, atau wujud ciptaan, yaitu alam semesta dan segala isinya termasuk manusia. 

Sebelum mengetahui Realitas yang sebenarnya, manusia hanya mengetaui realitas yang tidak sebenarnya, yaitu wujud tergantung, wujud pinjaman, wujud bayang-bayang, wujud ciptaan, alam penampakan atau alam fana yang bisa hilang dan lenyap. 

Walaupun kebanyakan orang sudah membenarkan adanya Allah, namun belum mengenal, belum merasakan kedekatan dengan Allah (Qurbah), belum merasakan kebersamaan dengan Allah (Maiyah), belum merasakan dan mengalami pertemuan dengan Allah (Liqa Allah), belum mencintai Allah (Mahabah), belum dicintai Allah dan belum menjadi khalifah Allah. 

Allah SWT. adalah pemilik segala yang ada di langit dan di bumi, termasuk matahari, bulan, badan kita, nyawa kita dan juga wujud kita (QS. 2:255; 4:126; 20:6). Maka, wujud manusia itu sangatlah tergantung secara total pada kekuatan Allah. Pemahaman tentang fakta ini bisa mengubah cara pandang kita tentang hubungan Allah dengan alam semesta dan manusia itu sendiri, yaitu dari hubungan aksidental menjadi hubungan substansial-fungsional. 

Allah SWT. Yang Maha Kuasa, Maha Pencipta, dan Pemilik segala apa yang ada di langit dan di bumi (QS. 2:255) itu memberitahu manusia bahwa Allah itu dekat dengan manusia (QS. 2:186), lebih dekat dengan manusia daripada urat lehernya sendiri (QS. 50:16) dan Allah itu juga selalu bersama manusia di manapun ia berada (QS. 57:4). 

Kebanyakan orang memahami pemberitahuan Allah tersebut baru sebatas pernyataan dan belum memahaminya sebagai kenyataan yang bisa dirasakan dan dialami. Akibatnya, orang tidak bisa merasakan Kekuatan, Bimbingan, Pertolongan dan Perlindungan Allah. 

PENGERTIAN KRISIS SPIRITUAL
Krisis spiritual adalah krisis pengetahuan, krisis kesadaran dan krisis pengalaman tentang Allah. Akibat ketiga krisis tersebut muncullah krisis iman dan krisis aqidah. Oleh sebab itu, solusinya adalah penguatan iman dan pemantapan aqidah.

Krisis Pengetahuan tentang Allah, ditandai dengan minimnya pengetahuan Allah itu apa? Allah itu siapa? Dan Allah itu di mana?. Sehingga, eksistensi Allah hanya dipahami dengan samar-samar. Krisis kesadaran tentang Allah, ditandai dengan ketidakmunculnya kesadaran bahwa Allah itu tidak pernah terpisah dari manusia. Sehingga, manusia merasakan seakan-akan bisa hidup sendiri, bisa berfikir sendiri, bisa beraktifitas sendiri, tanpa merasakan ketergantungan total kepada Allah. 

Krisis pengalaman tentang Allah, ditandai dengan kedangkalannya memahami realitas. Segala sesuatu diukur dengan ukuran alam bendawi atau alam materi. Sehingga, adanya realitas Yang Mutlak, Yang Tidak Terbatas dan Yang Esa itu diluar jangkauan pemahaman dan perasaannya. 

Manusia itu bisa mencapai kesadaran dan bisa merasakan serta mengalami pertemuan dengan Allah di dunia ini. Melalui tauhid hauqalah, ia bisa menyadari bahwa yang ada hanya kekuatan Allah. Melalui tauhid shamadiyah, ia bisa menyadari ketergantungannya secara total pada kehendak Allah. Dan melalui tauhid al-wujud, manusia bisa menyadari bahwa yang ada hanya wujud Allah yang mutlak, yang tak terbatas dan yang Esa.

Sebenarnya, manusia itu tidak bisa hidup, bergerak dan beraktivitas tanpa kekuatan dan pertolongan Allah. Namun, kebanyakan orang tidak menyadari ketergantungannya secara total pada kekuatan dan pertolongan Allah. Akibatnya, manusia merasa tidak membutuhkan Allah, mengabaikan, dan tidak peduli pada Allah. 

Manusia, sebenarnya juga tidak pernah bisa berdiri sendiri, terpisah dan terlepas dari kekuatan Allah yang tidak terbatas dan tidak terbagi. Perasaan keterpisahan itu hanyalah ilusi yang ada dalam pikiran manusia, karena ketidaktahuannya tentang Allah.

Dengan kekuatan, petunjuk dan pertolongan Allah, manusia bisa dibangunkan dari tidurnya, agar bisa melihat kenyataan yang sebenarnya. Sehingga manusia tidak dikuasai dan diperbudak oleh benda-benda dan semacamnya. 

Pada dasarnya, manusia bisa berada di alam Ilahi yang mutlak dan tak terbatas, tanpa kehilangan individualitas dan identitasnya sebagai manusia (baca hamba Allah), dan juga bisa berada di alam bendawi tanpa berpisah dari yang mutlak dan tak terbatas. 

KRISIS SPIRITUAL BERAKIBAT PADA KRISIS SOSIAL DAN MORAL
Krisis spiritual membawa akibat pada krisis iman dan krisis aqidah. Selanjutnya juga bergulir membawa efek pada krisis kehidupan manusia dalam berbangsa dan bernegara. Yaitu krisis sosial dan moral, krisis pendidikan, krisis hukum, krisis ekonomi, krisis politik dan pemerintahan serta berbagai krisis lainnya.

Krisis sosial dan moral, ditunjukkan dengan perilaku manusia yang lupa diri. Yaitu dia tidak tahu bahwa dia tidak tahu, sehingga dia merasa sok tahu, sombong, takabur, dan ujub. Ia tidak menghamba kepada Allah, tetapi kepada yang selain Allah. Yaitu menghamba kepada nafsunya, menghamba kepada harta benda, menghamba kepada kekuasaan dan lainnya.

Manusia yang mengalami krisis sosial dan moral, pasti merasa bisa hidup, merasa bisa bergerak dan beraktivitas sendiri, sehingga mengabaikan keberadaan Allah. Padahal, manusia itu tergantung secara total pada kekuatan Allah yang tidak terbatas.

Manusia yang mengalami krisis sosial dan moral, akan kehilangan makna hidupnya, kehilangan status ontologisnya sebagai hamba Allah. Ia pun kehilangan posisi makhluk Ilahiahnya sebagai khalifah dan juga bisa kehilangan derajat tertingginya yang lebih tinggi dari malaikat. Bahkan derajatnya turun ke tingkat hewan dan lebih rendah dari benda mati, karena dikuasai dan diperbudak nafsu, setan serta harta benda dan semacamnya. 

SOLUSI KRISIS SOSIAL DAN MORAL ADALAH TRANSFORMASI SPIRITUAL
Manusia itu bisa hidup dalam tiga alam sekaligus, yaitu alam bendawi atau indrawi, alam ruhani atau rasional, dan alam Ilahi atau spiritual. Tetapi, manusia bisa terkurung dan terpenjara di alam bendawi dan alam ruhani, karena krisis spiritual.

Di alam bendawi atau alam inderawi, manusia mudah dikuasai nafsu dan setan, sehingga manusia menjadi semaunya sendiri, seperti maunya nafsu dan setan yang mau enaknya saja, tidak mau aturan, melawan aturan dan durhaka terhadap Allah. Akibatnya, manusia menjadi egois, tamak, rakus, serakah dan tidak beradab. Egoisme itu sangat berbahaya bagi kelangsungan kehidupan pribadi, keluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 

Di alam ruhani atau alam rasional, manusia berada dalam kesadaran kolektif, sehingga merasa satu golongan, satu suku, satu bangsa, satu agama. Akibatnya, manusia mudah didominasi egoisme kolompok atau golongan, yang memicu timbulnya permusuhan, kerusuhan massal dan perang yang saling menghancurkan.

Di alam Ilahi atau alam spiritual, manusia menyadari status ontologisnya sebagai makhluk Ilahiah atau hamba Allah, yang bisa selalu dekat dan bersama-Nya; bisa selalu berada dalam Petunjuk, Pertolongan dan Perlindungan Allah, sehingga manusia tidak dikuasai dan diperbudak nafsu. 

Manusia itu secara potensial makhluk Ilahiah dan makhluk kekal yang bisa melintasi alam bendawi dan alam ruhani, serta memasuki dan mendiami alam Ilahi. Sebab, ruhnya berasal dari Allah, ruh Allah, milik Allah, ruhnya pinjaman dari Allah atau ruhnya pemberian dari Allah sebagai pinjaman. “Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud” (QS. 38:72; 15:29). 

Allah menjelaskan bahwa tujuan Allah menciptakan manusia itu untuk beribadah, menyembah Allah dan menjadi hamba Allah dengan cara mengikuti petunjuk-Nya, melaksanakan perintah-Nya, dan menjahui larangan-Nya. Oleh sebab itu, manusia harus terus-menerus diberi tahu, diingatkan dan disadarkan pada ketinggian derajatnya sebagai makhluk Ilahiah dan sebagai hamba Allah agar kelak setelah mati tidak menyesal, menderita dan tersiksa selama-lamanya.

Allah SWT. memberi manusia potensi berupa indra, akal dan hati yang bisa dikembangkan sampai tak terbatas. Kini saatnya manusia menyadari potensi Ilahiahnya sebagai makhluk spiritual yang bisa menciptakan dirinya sendiri dan dunianya serta menundukkan langit dan bumi (QS. 45:13).

Manusia yang terkungkung di alam bendawi dan alam ruhani saja, akan mengalami krisis sosial dan moral serta krisis kehidupan lainnya, maka solusi terbaiknya adalah transformasi spiritual dengan cara mengenalkan manusia pada Allah sebagai asal-usulnya, dasar wujudnya, sumber kekuatannya, tempat bergantungnya dan tempat kembalinya. 

Tujuan transformasi spiritual agar manusia bisa merasakan dan mengalami pertemuan dengan Allah di dunia sehinga ia bisa mengakses kekuatan Allah yang tidak terbatas untuk mendapatkan petunjuk, pertolongan dan perlindungan Allah guna mengatasi dan memecahkan semua masalah yang dihadapinya. 

PENUTUP
Manusia bisa mengetahui Allah itu sebenarnya apa, siapa dan di mana dari Allah sendiri yang kita ketahui melalui Al Quran. Lebih dari itu, Allah menawarkan dan menganjurkan manusia agar bertemu Allah (QS. 29:5), Allah menjamin kepastian manusia bisa bertemu Allah (QS. 84:6), Allah menunjukkan caranya agar manusia bisa bertemu Allah (QS. 18:110), Allah mengancam manusia yang tidak ingin bertemu Allah (QS. 10:7-8; 11), dan Allah juga menjelaskan bahwa manusia bisa bertemu Allah di dunia ini (QS. 17:72; 22:46).

Ilmu tentang Allah itu ilmu yang paling mahal, tiada ternilai harganya dan tidak bisa dinilai dengan uang. Ilmu tentang Allah itu ilmu yang tertinggi, ilmu tentang realitas terakhir, dan ilmu tentang kenyataan yang sebenarnya. Karena itu, diperlukan usaha yang terus menerus membantu manusia agar memiliki kedalaman Pengetahuan tentang Allah. 

Dalam upaya itulah, Liqa Allah Centre menyelenggarakan program Transformasi dan Pencerahan dengan metode Liqa Allah agar manusia bisa bertemu Allah di dunia ini.

Semoga Allah SWT. memberi kita kekuatan dan kesanggupan serta memudahkan kita untuk bisa mendapatkan karunia yang diridhai-Nya. Amiin.

Keterangan : Tulisan ini disampaikan sebagai makalah “Serial Diskusi Krisis Spiritual Bangsa 1” yang diselenggarakan oleh Liqa Allah Centre bekerja sama dengan Republika, di Taman Ismail Marzuki, 
27 Desember 2013.

 8  2

 

 Google +0 

Search

Navigation

BerandaMateriDukungan PresentasiAcaraMitraKomunitasTentang Kami

Follow Us on

    

Copyright © 2014. Tim IT Liqa’ Allah

ShareThis Copy and Paste

– See more at: http://www.liqaallah.org/acara/konten-berita.php?id=41#sthash.QZ33veqL.dpuf

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s