Wiki how: lesbian

Cara Mengetahui Jika Kamu adalah Lesbian

Orientasi seksual bukan hal yang bersifat biner, melainkan berada pada spektrum kontinu.[1] Oleh karena itu, mengidentifikasi preferensi seksual dan menerima orientasi seksual yang Anda miliki kerap menjadi perjalanan yang panjang, berliku-liku, dan penuh emosi. Memulai proses ini dapat terasa terlalu memberatkan pada awalnya. Berdayakan diri Anda sendiri untuk mengungkap jati diri sesungguhnya. Tetaplah jujur dan terbuka terhadap diri Anda—percayalah pada insting yang Anda miliki. Dengarkan raga Anda. Akuilah perasaan dan kecenderungan Anda yang sesungguhnya, dan terimalah hal yang Anda temukan tentang diri Anda sendiri sepanjang proses tersebut.[2]

Iklan

SuntingMetode 1 dari 3:
Mengidentifikasi Preferensi Seksual Anda

1

Tinjau terlebih dahulu alasan Anda mempertanyakan orientasi seksual Anda. Keputusan menjelajahi orientasi seksual haruslah berasal dari diri Anda pribadi. Pertanyakanlah seksualitas Anda karena proses itu perlu Anda jalani hingga tuntas, bukan karena terdapat anggota masyarakat yang memberi tahu Anda bahwa Anda adalah seorang lesbian. Curahkan waktu untuk refleksi diri. Pelihara sebuah buku jurnal, blog pribadi, atau buku harian berbentuk video, yang dapat berfungsi sebagai corong eksplorasi dan pengungkapan jati diri.[3]

2

Identifikasi preferensi seksual yang Anda miliki. Mencoba-coba pengalaman seksual dengan sesama jenis adalah hal yang sehat, normal, dan tidak selalu berarti Anda seorang lesbian. Namun, mengalami hasrat sering atau konsisten untuk bersama wanita ketimbang pria dapat mengindikasikan bahwa Anda seorang lesbian.Apakah Anda senantiasa memperhatikan penampilan wanita lain? Apakah Anda kerap menyadari senyuman, keunikan, dan ciri-ciri seorang wanita?Apakah jantung Anda berdegup kencang dan Anda merasa gugup saat berjumpa dengan wanita yang menarik?Apakah Anda senantiasa membayang-bayangkan seorang wanita tertentu?Apakah Anda terangsang secara seksual oleh wanita?Apakah Anda lebih suka berciuman dan berhubungan intim dengan wanita?[4]

3

Gunakan uji orientasi seksual yang ada. Jika Anda menghadapi kesulitan dalam mengidentifikasi preferensi seksual yang Anda miliki, menjalani sebuah uji orientasi seksual dapat menunjukkan kebenaran yang baru mengenai preferensi seksual Anda. Jika Anda merasa cukup yakin terhadap kemampuan Anda mengidentifikasi preferensi seksual Anda, hasil ujian juga dapat memberikan konfirmasi terhadap penilaian diri tersebut.Gunakan uji Skala Kinsey (Kinsey Scale). Skala Kinsey menilai letak Anda dalam rentang skala tersebut—dari heteroseksual (penyuka lawan jenis) hingga homoseksual (penyuka sesama jenis). Anda tidak akan dilabel sebagai seorang heteroseksual, biseksual, atau homoseksual. Uji ini terdiri dari 13 pertanyaan benar/salah dan sangat sedikit menanyakan informasi demografis.[5]Gunakan uji Inventori Orientasi Seksual (Epstein Sexual Orientation Inventory, ESOI). ESOI diciptakan oleh Robert Epstein, salah satu psikolog paling ternama dari Amerika. Tes ini dipakai untuk mengevaluasi orientasi seksual seorang individu. Ketimbang menyematkan label pada orientasi seksual Anda, hasil tes ini sebatas mengungkap posisi orientasi seksual Anda dalam suatu garis kontinu. Uji yang terdiri dari 18 pertanyaan ini hanya membutuhkan 5 menit dari Anda.[6]

Iklan

SuntingMetode 2 dari 3:
Mengakui dan Menerima Penemuan Diri

1

Akui bahwa orientasi seksual itu ada. Alamiah bila Anda berusaha menghindari atau memberikan kompensasi berlebih terhadap hasrat seksual Anda —merasa takut dan sulit menampungnya itu wajar! Untuk melangkah maju ke depan, Anda harus bersikap sepenuhnya terbuka dan jujur terhadap diri Anda. Setelah Anda berhenti mengekang preferensi seksual Anda dan mulai mengakui keberadaan, barulah Anda bisa memulai proses penerimaan diri.[7]Preferensi seksual terletak pada suatu garis kontinu. Sifatnya mengalir dan bisa berubah (fluid), bukan statis. Mungkin saja preferensi seksual Anda tidak sesuai dengan definisi standar yang ada dan hal itu sepenuhnya tidak masalah. Hal itu sangat umum dan wajar.[8]Bahkan seorang biseksual tidak serta-merta memiliki ketertarikan yang sama besar terhadap wanita dan pria. Bisa saja dia lebih menyukai pria ketimbang wanita atau wanita ketimbang pria.Wanita yang mengidentifikasi diri sebagai lesbian pun terkadang bisa menganggap seorang pria berpenampilan menarik.

2

Cintai diri Anda sendiri. Sembari menempuh proses penerimaan diri, mengakui bahwa diri Anda seorang lesbian adalah langkah pertama dari sebuah proses yang bertahap. Penerimaan diri kerap kali tidak dapat dilakukan dalam semalam. Seiring Anda merasa semakin nyaman dengan orientasi seksual Anda, lamban laun Anda akan menyadari bahwa hal itu tidak mendefinisikan Anda sebagai seorang individu. Jalani hidup Anda tanpa penyesalan —buang rasa malu dan bersalah terkait ini.[9]

3

Sampaikan pesan positif terhadap diri sendiri. Jika Anda dibesarkan dalam rumah tangga yang sangat konservatif atau masyarakat yang tidak toleran, identitas seksual Anda bisa bertentangan dengan nilai moral atau agama yang telah ditanamkan dalam diri Anda dari dini. Mengubah bahasa dan pemikiran Anda dengan sengaja adalah cara efektif untuk menggeser persepsi Anda akan benar dan salah. Berhentilah mendikte diri bahwa Anda tidak layak dicintai atau bahagia dan mulailah mengamini bahwa Anda juga memiliki nilai sebagai seorang manusia. Ketimbang menyampaikan kepada diri sendiri bahwa menjadi lesbian adalah sebuah dosa, terimalah bahwa preferensi seksual Anda adalah hal yang alami, sehat, dan berterima.[10]Mulai kenali kecenderungan menyampaikan pesan negatif terhadap diri sendiri. Apa saja kebohongan berbahaya yang Anda tanamkan ke diri Anda sendiri? Apakah pemikiran semacam itu muncul akibat situasi-situasi tertentu, seperti perbincangan dengan seorang anggota keluarga?Ubah frasa negatif dengan mantera positif yang Anda buat sendiri. Ketika Anda menyadari bahwa Anda menyatakan, “Saya tidak layak disayangi” atau “Saya tidak berhak untuk bahagia,” tarik napas dalam-dalam, tersenyumlah, dan beri tahu diri Anda bahwa Anda “bernilai, dicintai, dan berhak menjalani hidup secara tulus dan membahagiakan diri Anda!”

4

Tentukan apakah proses melela (coming out), mengungkapkan identitas Anda, aman atau tidak.Menentukan saat untuk melela kerap menjadi proses yang menyiksa secara emosi yang memiliki berbagai potensi dampak. Sebelum mengungkapkan identitas seksual Anda kepada keluarga, teman, dan rekan sekolah/kerja Anda, tentukanlah hal tersebut aman atau tidak.[11]Temuilah seorang dokter atau ahli konseling untuk memprediksi reaksi orang tua dan kawan Anda. Pertimbangkan cara orang tua dan kawan Anda membicarakan orang yang menyukai sesama jenis. Pikirkan reaksi mereka terhadap berita yang pelik.[12]Jika orang tua atau kawan-kawan Anda menentang penyuka sesama jenis secara terang-terangan, Anda harus berhati-hati dan selektif.[13]

5

Terimalah bahwa proses penerimaan diri Anda akan berdampak terhadap orang lain.Meskipun menemukan dan menerima orientasi seksual adalah perjalanan yang bersifat sangat pribadi, Anda juga perlu menerima bahwa hal ini akan memengaruhi hubungan Anda dengan orang lain. Mengungkapkan hal ini kepada teman, anggota keluarga, dan kolega akan memicu stres! Anda tidak perlu memberi tahu semua orang yang Anda kenali atau temui.[14] Ketika Anda merasa nyaman dan percaya diri, mulailah membuka topik pembicaraan dengan pihak yang membuat Anda merasa nyaman. Persiapkan diri untuk menghadapi respons negatif dan hargai respons positif.[15]

6

Atur pertemuan dengan ahli konseling. Mencerna identitas seksual dan menerima diri adalah proses yang panjang dan rumit. Menghadapi stigma sosial pun menguras energi secara mental dan emosional. Mengatur pertemuan dengan seorang ahli terapi yang berkualifikasi—seorang profesional yang berpengalaman memberikan konseling terhadap anggota komunitas LGBTQ—dapat membantu Anda menjelajahi proses ini. Seorang ahli terapi dapat membantu Anda menerima orientasi seksual dan membantu Anda dalam proses melela kepada keluarga dan kawan.

Iklan

SuntingMetode 3 dari 3:
Menjalani Hidup dengan Tulus

1

Definisikan diri dan jalani hidup Anda sendiri. Meskipun masyarakat memiliki gambaran stereotip tersendiri terhadap seorang lesbian, komunitas lesbian terdiri dari wanita yang beragam dari berbagai latar belakang. Sembari Anda menjelajahi dan mengalami komunitas lesbian sendiri, berusahalah mempelajari segala dan setiap hal yang bisa Anda ketahui tentang komunitas baru Anda. Seiring waktu, Anda akan menemukan relung Anda sendiri dalam komunitas tersebut. Anda pun bisa mendefinisikan sendiri makna menjadi seorang lesbian bagi Anda dan menjalani hidup berdasarkan pemaknaan itu.[16]

2

Pelajari komunitas LGBTQ secara mandiri. Membangun fondasi pengetahuan tentang komunitas LGBTQ—masa lalu, sekarang, dan depannya—akan mencerahkan Anda, juga menyadarkan Anda akan rintangan yang mungkin ada dan memberikan Anda pemahaman mengenai cara melampauinya.[17]Pelajari cara membedakan seks (jenis kelamin) dan gender; akrabkan diri Anda dengan spektrum orientasi seksual.Pelajari literatur akademis—di luar negeri, terdapat banyak beasiswa terkait studi LGBTQ!Ikuti kabar terkini mengenai isu LGBTQ yang diliput dalam berita.

3

Pastikan Anda dikelilingi oleh orang-orang yang suportif.Tidak ada rasa sakit yang lebih perih dari rasa terkucil. Sepanjang proses penerimaan diri, keberadaan teman yang bisa diandalkan atau kelompok dukungan (support group) yang bisa diandalkan adalah wajib. Wanita dan pria demikianlah yang akan memberikan Anda nasihat dan penghiburan ketika perjalanan mulai terasa berat.Berkeluh kesahlah kepada teman dan anggota keluarga yang bisa Anda percaya.Bergabunglah dengan kelompok dukungan atau komunitas daring yang mendukung. Salah satu yang tersedia di Indonesia adalah Melela.org yang mewadahi cerita dari kalangan LGBTQ.[18][19]Apabila ada, Anda bisa mendatangi gereja, pondok pesantren, atau rumah ibadah yang bisa menghubungkan Anda dengan jemaat pria dan wanita yang seiman dengan Anda.Hal ini akan sulit dilakukan di Indonesia dibandingkan di luar negeri. Situsgaychurch.org memberikan daftar gereja Kristen yang mengakui LGBTQ.Anda bisa juga mencoba melakukan pencarian rumah ibadah atau institusi keagamaan yang mengakui LGBTQ di sekitar Anda.

4

Dirikan atau bergabunglah dengan kelompok dukungan LGBTQ. Meskipun akan sulit menemukan klub kegiatan seperti Persekutuan Gay-Straight (Gay-Straight Alliance, GSA) yang ada di sekolah menengah Amerika Serikat, beberapa kampus memiliki kelompok konseling dan penelitian terkait seksualitas seperti SGRC (Support Group and Research Center) di sejumlah universitas di Indonesia. Organisasi serupa dapat menjadi kelompok dukungan dan jaringan sosial bagi anak muda. Anda bisa mengusahakan kerja sama dengan administrasi sekolah untuk mendirikan suatu unit kegiatan.[20]

5

Temukan dan gunakan layananLGBTQ Resource Center. Di luar negeri, banyak kota dan kampus memiliki pusat informasi khusus terkait LGBTQ. Pusat informasi semacam ini menghubungkan siswa dengan alat bantu bermanfaat dan layanan terpercaya, serta menyediakan ruang yang aman dan inklusif bagi siswa untuk menelusuri orientasi dan identitas seksualnya.[21]

Iklan

Info Artikel

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s