Rasa yang terpendam

To my Brother,

Tak menyangka, bahwa Tuhan akan mempertemukan aku denganmu lagi di sini, di Singapore.
Dan sebuah rasa yang lama terpendam, kini hadir lagi, menyiksaku.
Engkau adalah sosok pertama yang pernah aku kagumi. Sosok yang kuidolakan, yang kuimpikan dan selalu menjadi imaginasiku, sejak masa SMP.
Karena kita masuk di sekolah yang sama. Kau memang berbeda dari anak2 yang lainnya, lebih santun dan lebih sholeh.
Waktu itu, masih terlalu dini untuk aku mengenal apa itu arti cinta, karena yang kutahu ada batas, antara pria dan wanita. Aku hanya sebatas mengagumimu.
Tetapi, untuk pertama kalinya, aku mengenal kata sakit hati oleh seorang pria. Ucapanmu yang masih membekas hingga hari ini. Antara sakit hati, kesadaran diri dan terimakasih. Yang mungkin tak berati bagimu, tapi masih selalu terngiang dalam kesadaranku.
Hari itu, entah di usia yang keberapa. Engkau maen kerumahku seperti biasa. Aku memang termasuk orang yang mudah terpengaruh oleh lingkungan. Saat itu, aku terpengaruh teman kita, yang terbiasa mengucap kata kasar, aku mendengarnya biasa dan asyik, yang tanpa sadar aku mengikutinya. Baru saja kau datang dan seperti biasa saling menyapa, baru saja ngapain, dan kujawab, “mari mbathang”(baru tidur), kata mbathang memang tak pantas untuk manusia, yg artinya hewan mati yang membusuk. Dan seketika, kau ucapkan padaku, bahwa kamu tidak suka, paling tidak suka sama cewek, yang kata2 nya kasar dan tidak sopan.
Aku mencoba mencari dalih, dan kamu lebih benar memberi alasan. Dan setelah kamu pergi, ucapanmu terus aku pikirkan. Menyadarkanku, dan aku selalu ingat ucapanmu setiap aku hendak mengucap kasar atau berada di lingkungan yang kasar, aku selalu berusaha menjaga lisanku.
Tetapi di sisi lain, ada yang lebih menyakitkan di balik teguran itu. Adalah tertutupnya harapan. Aku seperti berharap sesuatu sebelum itu terhadapmu, meski aku tak tahu harapan apa itu, tapi aku seperti tak punya harapan padamu. Aku menjadi menjaga jarak denganmu, segan, tetapi tetap mengagumimu.
Setiap kali kudengar engkau balik pulang dari sekolahmu, hati penasaran ingin melihatmu. Dan setiap kali melihatmu, penampilanmu apalagi dengan seragammu. Kau benar2 sempurna dalam imaginasiku.

Seiring waktu berlalu, aku tenggelam dalam perjalananku, mengalami banyak warna kehidupan. Hari berganti, bulan berjalan, tahun berlalu.
Dan Tuhan membuat kita bertemu, di sini di Singapore.
Engkau yang semakin sempurna, dan aku,…
Hanya tetap menjadi pengagummu.

Sepanjang perjalanan hidupku, sungguh, aku belum pernah mengalami jatuh cinta terhadap pria. Dan bertemu kembali denganmu, astaghfirulloh, imaginasiku tiba2 menjadi liar. Seliar perasaan yang pernah kurasakan saat aku pernah jatuh cinta terhadap sesama jenis.
  Aku sadar ini tak boleh ada, aku harus berusaha menghapusnya, bukan karena sebentar lagi aku juga akan menikah lagi, tapi pastinya, perasaanku hanyalah bertepuk sebelah tangan.
Aku selalu tersenyum meski kecut, menyadari terhadap sesuatu yang tak mungkin. Mudah bagiku move on, tapi lega setelah berani menyampaikan perasaan ini, karena aku gak mau ini menjadi beban terpendam. Karena dengan mengungkapkan, lebih mudah bagiku mengikhlaskan setelahnya. Dan menjadi seperti yang seharusnya kita jalani. Sebagai sahabat dan sebagai kerabat.
Aku sudah pernah dua kali menikah, dan beberapa kali pacaran dengan pria. Tetapi semua berjalan karena keterpaksaan, rasa yang kupaksakan ada. Rasa yang aku tidak mampu berimajinasi. Rasa yang tak menggetarkan jantung hati. Hingga akhirnya selalu berakhir dengan kelabu karena salahku yang membohongi diri sendiri.
Dan aku selalu berharap bisa bertemu rasa itu lagi terhadap pria. Dan aku menemukan rasa itu saat melihatmu lagi, disini.
Aku sebenarnya enggan bertemu denganmu. Takut, oleh perasaanku sendiri. Tapi untuk bisa menghapusnya, justru harus lebih sering bertemu denganmu, asalkan kamu tak memiliki perasaan yang sama, maka akupun akan ada di gelombang yang sama. Mudah.

Maafkan aku
Maafkan aku telah berani menyampaikan ini, semoga tidak berarti bagimu, dan kau melupakannya seperti tidak pernah ada.
Seperti yang kamu bilang, hidup  adalah ujian, aku lebih tidak mampu menyimpan dan mudah melupakan setelah menyampaikan. Dan berharap tetap terjalin tali silaturahim antara kita.
Aku berdoa semoga engkau selalu dalam rahmat Allah sekeluarga dunia akhirat, dan kuharap engkau juga sudi mendoakanku agar bisa juga memperoleh kebahagiaan sepertimu, dunia akhirat. Meski di usiaku yang sekarang.
Tidak ada kata terlambat untuk ku bertobat kan??? Hehhe…. Amin.

Semoga setelah ini smua jalan dimudahkan,

Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s