Curhat dalam kenangan

http://ingatsangkuasa.blogspot.sg/2016/06/nikah-sebagai-wasilah-penyelesai.html

Terinspirasi dari kisah blog diatas, aku jadi ingat pengalamanku sendiri.
Mengapa mungkin sampai hari ini aku masih jomblo.

Aku lahir dan besar di desa, dengan keluarga biasa, yang boleh dikatakan dengan pengetahuan agama yang minim, juga miskin materi.

Selepas SD aku termasuk anak yang kuper, minder, apalagi waktu sekolah SMP dikota, yang rata2 anak orang kaya.
Aku banyak menghabiskan waktu untuk sekolah, sedikit bergaul dengan teman2 di kampung.
Hanya, rumahku(emperan), sering menjadi tempat berkumpul teman2 ku nimbrung, juga para tetangga terutama kaum ibu2.

Sering, kalau bosan belajar, aku ikut nimbrung bersama mereka, sekedar mendengarkan.

Aku adalah orang yang cenderung menyimpan data. Karena seringnya percakapan yang kudengarkan itu, akhirnya masuk dan tersimpan dalam benakku dan menjadi sumber perilakuku kemudian.

Teman2 sebayaku itu hampir setiap hari, kalau ngumpul di emperanku, karena dipinggir jalan raya, setiap ada pemuda lewat, pasti dibahas, ketampanannya, motor merk apa, dan gak malu sampai memanggilnya.

Dan ibu2, kalau ngumpul di emperanku, yang dibahas pasti ghibah tetangga ini dan itu.
Yang membekas di ingatanku, adalah kalau ada yang hendak mendapatkan jodoh, pasti dibahas cacatnya calon. Ketampanannya, postur, harta….dan selalu yang negatif…. Dan memuja kalau kaya,tampan, tinggi dll.

Sampai pernah ada tetangga yang juga miskin mendapatkan calon laki, satu ibuk berkomentar ” laki2 itu modalnya cuma “pokok lanang”, gak ganteng, gak kaya, gak tinggi dll, muk lanang…..,

Dan aku punya Ibu (alm,semoga Allah mengampuni beliau)
Kalau pas lagi nyerewetin saudaraku yg memang agak ganjen, selalu yang diucapkan,
Membandingkan kami dengan mereka yang kaya. Karena mereka anak orang kaya jadi boleh seenaknya, kami miskin harus banyak membatasi diri,
Juga selalu membandingkan perempuan dengan laki2.
Seperti misal duduk metengkrang,
Perempuan gak boleh ini dan itu, yang gak apa2 kalau laki2.

Sehingga waktu itu, masa SMP, adalah masa pembentukan pondasi kepribadianku. Karena usia itu, aku mulai bisa berpikir, mencari makna hidup, mulai merasa minder, dan terus memasukkan apapun ke dalam otak ku.

Lepas SLTA, karena kendala biaya aku tidak melanjutkan sekolah, aku ingin cepat2 jadi orang kaya.
Dan satu2nya yang kutahu cara mendapatkan uang adalah dengan bekerja, dan tawaran bayaran tertinggi waktu itu adalah pekerjaan menjadi TKW. Maka aku mendaftar menjadi tkw.

Tetapi, perjalanan hidup memang selalu dalam ujian. Dengan agama yang awam minim, aku menjalani hidup bagai air yang mengalir. Aku akan mengalir bersama arus. Dan selalu memilih yang terasa indah.

Di penampungan, semua calon tkw harus mencukur rambut, sehingga semua tampak menjadi tomboy. Disinilah aku mengenal indahnya cinta sesama jenis.

Aku lupa tujuanku untuk sekolah lagi dll. Saat aku pulang kampung bukan untung tp buntung.
Aku berkenalan dengan pria dan dia serius melamarku. Tapi aku menikah hanya karena ingin melepas status bujangku, menutupi penyakit jiwaku, kasian orang tuaku, dan tanpa cinta.
Saat menjalani hari2 dengannya, aku semakin menyakitinya, karena dia tidak tampan, tidak kaya, tidak pandai bergaul, tidak pandai diatas ranjang dll segudang alasan yang membuat kebersamaan kami ibarat neraka.
Karena kesalahanku. Lalu aku meninggalkannya.
Padahal aku juga gak cantik, gak kaya, gak pandai bergaul.
Aku menginginkan pasangan yang berbeda yang akan melengkapi kekuranganku. Tapi aku justru mendapat yang sama, adil kan..
Dan aku marah2 pada diriku sendiri.

Aku terus berusaha mengejar kekayaan, banting tulang peras keringat. Tapi semakin dikejar, aku hanya tetap sama.
Memburu jodoh yg berbeda tapi juga ttp dapet yang sama.

Sampai aku menyimpulkan,
Hidup adalah cermin.
Apa yang diluar diri kita adalah bayangan kita sendiri.

Hari ini, 20 th kemudian setelah SMP. Aku hanya menjadi penyimak teman2 ku SMP yg sudah bertransformasi menjadi manusia dewasa, sukses dengan segala cita2 nya. Terutama kisah inspiratif Jhon Lennon dengan 6 anaknya.

Aku masih akan mengulang cita2 itu. Hidup benar2 fatamorgana.
Kini yang kuinginkan, yg sudah teman2ku dapatkan.
Aku hanya ingin menikah, dan menjadi istri dan ibu bagi keluargaku.

Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s